Ilmuwan Kuak Kunci Misteri Tsunami Palu: Jawabannya Ada di Dasar Laut

14 Des 2018 : 23:13
Pandangan udara memperlihatkan sejumlah bangunan rusak usai dilanda gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). Gempa berkekuatan 7,4 Magnitudo disusul tsunami melanda Palu dan Donggala pada 28 September 2018. (JEWEL SAMAD/AFP)
Liputan6.com, Washington DC - Gempa dengan magnitudo 7,4 yang mengguncang Palu pada Jumat, 28 September 2018 memicu tsunami. Gelombang raksasa setinggi 5 meter menderu menuju pantai, menerjang apa pun yang ada dalam jangkauannya, bangunan, kendaraan, juga banyak manusia.

Tsunami Palu juga mengejutkan para ilmuwan dunia. Tak ada yang mengira ukurannya bisa sedahsyat itu. Apa gerangan yang memicunya, masih jadi misteri hingga kini. Belakangan, sebuah penelitian yang dilakukan di teluk yang berada di Palu menunjukkan adanya penurunan signifikan di dasar laut.

Hal tersebut mungkin berkontribusi pada pergerakan air secara tiba-tiba yang kemudian menerjang ke darat. Memicu lebih banyak korban. Lebih dari 2.000 orang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Kesimpulan awal sejumlah investigasi terkait tsunami Palu tersebut dilaporkan dalam ajang Fall Meeting yang digelar American Geophysical Union di Washington DC, demikian dikutip dari BBC News, Selasa, 11 Desember 2018.

Gempa di Palu terjadi di sesar strike-slip (sesar geser), yang bergerak secara horizontal. Konfigurasi semacam itu biasanya tak pernah dikaitkan dengan peristiwa tsunami besar. Namun, itulah yang terjadi pada 28 September 2018 petang. Dua gelombang besar teramati. Bahkan, tsunami yang kedua lebih besar. Tsunami menerjang hingga 400 meter ke daratan.

Udrekh Al Hanif dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dalam rapat tersebut, mengatakan bahwa sumber pembangkit tsunami diduga berada sangat dekat dengan kota. Sebab, interval antara gempa dan datangnya gelombang tinggi sangat pendek. Kurang dari tiga menit.

Udrekh dan para koleganya berupaya mendapatkan jawaban dari peta batrimeti, yang menggambarkan kedalaman suatu daerah dan topografi dasar laut di teluk sempit yang mengarah ke Kota Palu.

Tim BPPT masih berupaya menemukan jawaban pasti. Namun, data mengindikasikan bahwa sebagian dasar laut di teluk itu anjlok akibat gempa. Faktor tersebut, dikombinasikan dengan pergerakan tajam kerak bumi ke utara, dipastikan bisa memicu tsunami.

"Saat mencocokkan batimetrik daya sebelum dan sesudah (gempa), kita bisa dapat melihat bahwa area dasar laut di dalam teluk di dalam teluk. Dan dari data ini, kami juga bisa memantau pergerakan ke utara. Sebenarnya ada pergeseran vertikal dan horisontal," kata Udrekh Al Hanif kepada BBC.

Namun, apakah hal tersebut cukup untuk menjelaskan ukuran tsunami yang terjadi di Palu, masih terbuka untuk dipertanyakan. Selain itu, juga ada bukti sejumlah kejadian longsor bawah tanah dalam data BPPT. Itu mungkin juga jadi faktor.

Kemungkinan lain adalah dorongan ke atas dari dasar laut, di zona dekat Palu, di mana sesar geser terpecah ke jalur yang berbeda. Pergerakan pada dua lintasan, pada waktu bersamaan, bisa jadi menekan lempeng yang berada di antaranya.

"Itu adalah kejadian yang tak biasa. Namun, proses tektonik menginformasikan bahwa hal tersebut bisa terjadi lagi," kata Finn Løvholt from dari Norwegian Geotechnical Institute. "Memang, ini bukan kejadian pertama di Palu. Mungkin yang ketiga atau keempat yang menimbulkan banyak korban. Ada kejadian yang mirip pada 1960-an dan 1920-an," tambah dia.

Sumber: Liputan6
Share this article

Read More

Saat ini 0 komentar :